Saturday, September 18, 2021
HomeReviewReview Film Only Yesterday : Luka yang Belum Sembuh

Review Film Only Yesterday : Luka yang Belum Sembuh

-

Jakarta, OOTB – Pasti banyak banget yang sudah kenal kisah mengharukan dari menghilangnya secara tiba-tiba kekuatan sihir Kiki si pengantar paket (Kiki’s Delivery Service), serunya petualangan Sheeta dan Pazu menemukan pulau Laputa di atas awan (Castle in The Sky), dan kegemasan melihat Totoro Dewa Penjaga Hutan menunggu Neko Bus sambil menggaruk-garuk pahanya (My Neighbour Totoro).

Tapi ada satu film Studio Ghibli yang tidak banyak dikenal, dan memang film ini tidak mendapatkan cukup apresiasi pada tahun perilisannya 1990-an silam. Dikarenakan Disney si pemegang hak distribusi Studio Ghibli di Amerika, enggan mengambil lisensi tayangnya. Bagaimana mungkin film terlaris di Jepang pada tahun 1991 baru dirilis di Amerika pada tahun 2016?

film only yesterday

Namun seiring berjalannya waktu, justru film animasi Only Yesterday yang dibesut oleh Isao Takahata ini, akhirnya diakui kualitasnya dan berhasil dinobatkan sebagai Best Animated Feature di International Online Cinema Awards 2016. Dan sekarang film animasi Only Yesterday sudah bisa disimak di Netflix bersama Chihiro dan Yubaba (Spirited Away) beserta film-film animasi Studio Ghibli lainnya.

So believe me, this movie is pure gold!

Sinopsis

Beda dengan film-film sang maestro Hayao Miyazaki yang lebih mengangkat sisi fantasi dan petualangan, film-film mendiang Isao Takahata lebih membumi, bersahaja, dan bernuansa kemanusiaan. Termasuk Only Yesterday yang merupakan film produksi Studio Ghibli ke-6 ini, Isao Takahata meramu drama dan karakter selayaknya kepingan puzzle yang akan tersusun manis dan mengisi hati kita dengan emosi serta rasa di akhir film.

Baca juga: Call Me By Your Name, Cinta yang Tidak Biasa Pada Tahun 80an

Tahun 1982, Taeko Okajima genap berusia 27 tahun, merupakan wanita kantoran yang sejak kecil hidup di kota super sibuk Tokyo. Taeko mengambil cuti untuk berlibur di pedesaan Yamagata, tempat keluarga kakak iparnya. Taeko dengan sengaja naik kereta malam Akebono menuju Yamagata, agar bisa menikmati suasana perjalanan malam dan langsung ikut memanen bunga kesumba saat tiba di desa tersebut. Karena sebelum matahari terbit, para petani biasanya sudah mulai bekerja di perkebunan.

Dalam perjalanannya, Taeko kembali mengingat potongan-potongan cerita masa kecilnya, saat Taeko kelas 5 SD pada tahun 1966. Mulai dari keinginannya untuk bisa mengahbiskan liburan musim panas di desa, pertama kalinya memakan buah nanas yang dibeli ayahnya di Ginza, euphoria The Beatles pada mode pakaian gadis remaja di era itu, cinta monyetnya dengan Hirota anak kelas 6, dan menstruasi pertamanya yang dianggap penyakit menular oleh anak laki-laki di kelasnya.

Setibanya di stasiun Yamagata, Taeko dijemput oleh Toshio, sepupu dari Kazuo. Tersebutlah Kazuo adalah suami dari Nanako, kakak perempuan dari Taeko. Dalam perjalanan dari stasiun menuju perkebunan keluarga Toshio, mereka membicarakan tentang kehidupannya masing-masing. Taeko dengan kotanya dan Toshio dengan perkebunan di desa. Setelah sampai di perkebunan, Taeko pun sangat menikmati membantu keluarga Toshio memanen bunga kesumba, bahkan ia langsung mengenakan perlengkapan berkebun begitu turun dari mobil Toshio.

Banyak aktivitas di desa yang secara tidak sengaja membuat Taeko menggali kembali ingatan tentang dirinya yang cukup memilukan di masa kecil. Diantaranya, keinginan Taeko untuk dibelikan tas kulit seperti punya Nanako yang berakhir dengan tamparan dari ayahnya dan kurang pintarnya Taeko dalam membagi bilangan pecahan yang membuatnya dianggap tidak normal oleh ibunya. Lalu, kesuksesannya di pentas teater festival sekolah yang membuahkan hasil, Taeko mendapatkan tawaran untuk berbagi peran di pentas drama di Universitas Jepang. Namun karena tidak diizinkan oleh ayahnya, peran tersebut digantikan oleh Aoki teman sekolahnya.

Menjelang berakhirnya liburan Taeko di Yamagata, malam itu nenek Toshio mengajukan permintaan kepadanya. Taeko dianggap sangat menikmati rutinitas kehidupan di desa, dan nenek Toshio meminta Taeko untuk tetap tinggal di desa serta menikah dengan Toshio. Namun, Taeko seperti enggan untuk menolak ataupun menerima permintaan dari nenek Toshio. Dan ia pergi ke luar rumah meninggalkan percakapan.

Tetiba turun hujan dan Taeko bertemu dengan Toshio. Di dalam mobil, Taeko menceritakan seorang anak laki-laki teman sebangkunya yang bernama Abe. Anak itu berasal dari keluarga miskin, berpakaian lusuh, tidak pernah punya sepatu olahraga. Terlebih, Abe suka mengupil dan menyekanya dengan lengan baju. Abe terbilang kasar dengan Taeko, dan ia tidak menyukainya.

Setelah mengulas pembicarannya tentang Abe, Toshio mengantar Taeko untuk pulang.

Keesokan harinya, Toshio dan nenek mengantar Taeko ke stasiun. Nenek meminta Taeko untuk mempertimbangkan kembali permintaannya tersebut. Dan menjelang kepulangannya, Toshio mengundang Taeko untuk kembali berkunjung lagi di musim dingin.

Dan di akhir film, berisi jawaban dari keseluruhan cerita. Apakah keputusan yang diambil Taeko benar-benar tulus dari hatinya atau keputusan tersebut muncul karena tekanan dari orang-orang disekelilingnya.

Be Patient with Yourself!

film only yesterday

Tempo film ini terkesan lambat, karena memang secara keseluruhan plot hanya memaparkan aktivitas cuti liburan Taeko, dan dibalut dengan adegan demi adegan  keseharian yang amat terstruktur sampai akhir film. Mirip dengan drama teater tradisional namun dekat dengan pendalaman cerita dan karakter, sehingga membuat isi film terasa berat.

Dan seperti yang sudah dibahas di atas, banyaknya adegan flashback yang acak akan terkesan gak nyambung dengan jalan cerita. Tapi, percayalah semuanya nyambung dengan personality “Taeko dewasa”. Justru flashback inilah yang membuat film ini begitu spesial. Bagaimana tidak, semua kepingan ingatan masa kecil Taeko akan tersusun manis dan mampu memecahkan emosi di akhir cerita.

Baca juga: 3 Film Original Netflix Yang Paling Banyak Ditonton

Memang, kunci utama menonton film ini adalah kesabaran untuk mencermati setiap detil adegan yang sangat berarti bagi jalan cerita.

Unfinished Business

Seperti film-film Studio Ghibli lainnya, Only Yesterday pun diciptakan nyaris tanpa cela. Walaupun tidak se-emosional kisah perjuangan Seita dan Setsuko yang bertahan hidup di perang dunia kedua (Grave of The Friflies), justru kisah Taeko Okajima lebih grounded dan terasa sangat resonan.

Inner child Taeko selalu hadir kembali dan menjadi pemicu setiap keputusan yang diambil oleh “Taeko dewasa”. Mulai dari permasalahan dengan anggota keluarganya, pengalamannya di sekolah serta segala keinginan Taeko yang tidak pernah terpenuhi.

Memang, ada saatnya inner child hadir di kala seseorang tengah merasa sepi, walaupun sebenarnya sedang tidak ada masalah yang amat berarti. Yang di lakukan Taeko adalah merangkul dan memeluk erat bayangan dirinya sewaktu masih kelas 5 SD. Mungkin “Taeko kecil” pernah terluka namun ia mengabaikannya, dan hal itu bisa menimbun luka yang mempengaruhi kehidupan “Taeko dewasa”.

Untuk itu, “Taeko dewasa” mencoba menenangkan inner child-nya.

Michelle

Film ini memiliki kualitas animasi yang sangat luar biasa cantik. Penggunaan watercolour untuk latar adegan flashback membangun nuansa kekanakan yang hangat.

Setiap adegan flashback tersebut, menangkap aspek nostalgia 80-an yang syarat dengan moment manis, mode pakaian, musik, ataupun elektronik yang digunakan di era itu.

Di era Taeko kecil (1966), kedatangan The Beatles ke Jepang memulai kegilaan rock and roll dan rok mini. Bahkan lagu Michelle sedang hits di kalangan anak muda Jepang.

Like a New Brand

Only Yesterday terbilang menarik banyak pujian dari para kritikus film, bahkan dengan rating 7,6 diberikan IMDb untuk film yang sudah di-dubbing ke dalam Bahasa Inggris ini. Dan yang paling gila, Rotten Tomatoes memberikan nilai 100% dan di cap certified fresh.

Jadi, tidak perlu ragu lagi untuk menonton film Studio Ghibli yang tidak banyak dikenal orang ini. Dengan ending yang sempurna ditambah backsound “The Rose” versi Jepun mampu menjawab juga pertanyaan yang belum terjawab di hidup kalian.

This movie so relatable.

Robiyana
Robiyana
Robiyana merupakan pekerja serabut multidisiplin yang berspesialisasi di branding dan desain grafis. Ia suka menguping dan memahami gagasan guna diterjemahkan ke dalam media kreatif. Percayalah, ia tidak jauh berbeda dengan kalian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Must Read

Sunmori dan Bisnis Dibaliknya

1
Jakarta, OOTB – Sunday Morning Ride atau biasa disebut Sunmori adalah hal yang sangat digandrungi banyak milenial, siapa yang tidak kenal dengan istilah ini?...