Monday, August 8, 2022
HomeReviewReview: All Of Us Are Dead, Angin Segar “Per zombiean” Korea

Review: All Of Us Are Dead, Angin Segar “Per zombiean” Korea

-

Jakarta, OOTB – All Of Us Are Dead merupakan drama terbaru yang tayang di Netflix pada tanggal 28 lalu (28/01/2022). Diadaptasi dari webtoon berjudul School Attack, drama zombie satu ini dirasa dapat menghembuskan angin segar di dunia “per zombiean” Korea.

Rasanya industri perfilman Korea Selatan sedang haus akan cerita-cerita mengenai mayat hidup yang dapat menyerang siapapun, kapanpun, dan dimanapun. 

Berbeda dengan pendahulunya, beberapa drama maupun film Korea yang mengangkat cerita tentang mayat hidup ini seperti Train To Busan, Kingdom, Happiness, dan deretan cerita zombie lainnya, All Of Us Are Dead terasa sangat berbeda. Hal pertama yang penulis sadari mengapa drama satu ini terasa fresh meskipun sama-sama mengambil cerita tentang zombie seperti “seniornya” dikarenakan karakter yang digunakan adalah segerombolan anak SMA.

series all of us are dead

Mengambil latar belakang sekolah, karakter anak SMA terasa sangat menonjol ketika mencoba bertahan hidup melawan ratusan mayat hidup yang menyerang. Anak SMA yang masih penuh dengan emosi tak stabil, labil, ego yang tinggi, dan ditambah lagi dengan bumbu percintaan ala anak ABG pada umumnya. Alih-alih dipenuhi dengan rasa tegang dan ketakutan yang meradang, beberapa scene malah dibungkus dengan hal-hal konyol khas anak SMA yang clueless dan tidak tau harus berbuat apa.

Baca juga: All Of Us Are Dead, Zombie Korea Selatan Yang Siap Menyerang Netflix

Namun, hal tersebut tidak mengurangi rasa tegang ketika menonton episode demi episode. Di salah satu scene, penggunaan teknik one-shot dirasa sangat berhasil  membawa penonton untuk masuk ke dalam situasi yang mencekam. Ditambah lagi scene dimana mereka harus melawan puluhan mayat hidup yang menyerang di tengah gelapnya malam dan hujan yang deras. Color grading yang digunakan terasa sangat pas dan menambah ambience jauh lebih mencekam. 

Tiap keputusan yang diambil para pemeran cukup mampu mencampur adukkan perasaan, mulai dari gregetan, kesal, marah, hingga emosi yang rasanya dibawa naik turun. Tapi, balik lagi kunci dari drama satu ini adalah tiap tokoh hanyalah siswa SMA yang pastinya sulit untuk berpikir rasional di tengah kerumunan mayat hidup yang siap melahap mereka hidup-hidup tanpa ampun. 

And that’s what make them natural

all of us are dead

Apresiasi tinggi kepada tiap pemeran zombie yang penulis rasa benar-benar mampu menampilkan sosok zombie yang nyata. Tak hanya itu, tim creative and make-up juga berhak untuk diacungi jempol karena mampu menyajikan visual scene demi scene terasa sangat hidup.

Baca juga: The Grotesque Mansion, Apartemen Lusuh Penuh Misteri

Tapi, sayangnya 12 episode terasa terlalu panjang dan dapat dipadatkan lagi. Beberapa episode seperti menampilkan kejadian berulang dimana mereka berpindah tempat, menetap, dan mencari cara untuk keluar, dan berputar seperti itu. Rasanya seperti bertele-tele. Selain itu, beberapa karakter pendukung dirasa kurang dan benar-benar hanya terasa seperti “penambah” tanpa mampu memberikan kekuatan pada cerita.

Uniknya, All Of Us Are Dead seperti menampilkan ending yang menggantung. Open ending yang penulis rasa cukup membuat selesai menonton dipenuhi dengan tanda tanya sehingga penonton dibiarkan untuk masuk creating our own version of All Of Us Are Dead ending.

Overall, All Of Us Are Dead lebih mudah untuk dinikmati karena ditambahkan bumbu komedi dan cinta-cinta an khas anak SMA. disamping story line yang dibawakan, Drama zombie satu ini dirasa berhasil untuk menyajikan tampilan visual tiap scene menjadi hidup dan saling terhubung.

Tasya
Tasya
Part time college student and full time fangirl who loves to write

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Must Read