Wednesday, June 3, 2020
Home Review Call Me By Your Name, Cinta yang Tidak Biasa Pada Tahun 80an

Call Me By Your Name, Cinta yang Tidak Biasa Pada Tahun 80an

Oleh: Irina Dewi

-

Jakarta, OOTB – Saya sebetulnya tidak setuju kalo Call Me By Your Name dilihat hanya sebagai buku LGBT. Kisah cinta antara Oliver dan Elio adalah kisah cinta yang sederhana, tanpa ada embel-embel tekanan sosio-politik, tanpa tekanan norma, dan bahkan tanpa tekanan dari keluarga, yang biasanya merupakan fokus dari kebanyakan buku LGBT jaman sekarang.

Padahal latar buku ini adalah tahun 80-an, di mana masa-masa itu adalah salah satu masa terberat pergerakan LGBT yang akhirnya juga berdampak pada era-era setelahnya. Call Me By Your Name, sama sekali tak menyentuh sektor-sektor yang saya sebut tadi, dan ini yang membuat buku ini seperti angin segar, tanpa muatan politis yang menyesakkan.

Kita hanya harus rela dibawa masuk ke dalam alam pikiran Elio yang tengah jatuh cinta pada Oliver dan ketika kita hanyut di dalam ceritanya, Aciman seperti membawa kita ke memori ketika kita dulu pertama kali jatuh cinta. Puritan, tanpa pretensi, just chemistry.

Buku ini menggambarkan proses Elio menuju usia dewasa, seorang remaja keturunan Amerika-Italia-Prancis, jago bermain piano, pintar, berwawasan luas, dan filosofis, yang hidup di tahun 1983. Di rumah musim panas yang dimiliki orang tuanya di sebuah desa di Italia, Elio bertemu dengan Oliver, seorang mahasiswa S2 yang sedang menyelesaikan tesisnya.

Oliver sengaja menghabiskan seluruh musim panasnya di rumah Elio untuk mendapatkan bimbingan dari ayah Elio yang memang dosen.  Di rumah musim panas inilah kisah cinta Elio-Oliver bermula. Dari persepsi Elio, kita seperti diingatkan bahwa cinta pertama itu adalah cinta yang intens, tanpa logika, penuh obsesi, dan biasanya berujung pahit.

Cara bercerita Andre Aciman yang hidup dan berlapis, membuat buku ini sangat sayang kalau dilewatkan, terutama bagian di mana Elio berimajinasi tentang banyak skenario di kepalanya ketika berhadapan dengan Oliver.

Penggambaran Aciman tentang pergolakan batin Elio, kadang membuat saya tergelak sekaligus mengamini bahwa cinta pertama memang cinta yang sulit untuk dilupakan. Teknik menulis yang digunakan oleh Andre Aciman mengingatkan saya pada buku Philip Roth ‘American Pastoral’ yang nuansanya memang mirip, terutama bagian Elio bermain-main dengan pikirannya sendiri.

Saya juga sangat kagum dengan cara Aciman dengan indah memberikan analisis mikroskopik tentang pergolakan identitas remaja di umur itu dan mengajarkan tanpa menggurui, bahwa cinta bisa tumbuh tanpa melihat gender, preferensi, dan batasan moral. At the end of the day,  love is just love. No political agenda, no pretense. Just two people in love. Sederhana, tapi juga kompleks.

Satu hal yang juga menonjol dari buku ini adalah percakapan antara Elio dan ayahnya, ketika kisah cinta Elio berakhir tragis. Justru, saya menangis bukan karena cinta Elio dan Oliver berakhir, tetapi lebih karena penggambaran indah Aciman tentang cinta tak bersyarat seorang ayah pada anaknya.

I cried my eyes big time, folks.

Irina Dewi
Irina Dewihttps://ootb.id
Virgo, Pecinta buku, Film dan Serial TV, itulah Irina Dewi. Ibu dari dua orang anak ini sebenernya lebih suka dipanggil Irina - tanpa Dewi. Mulai siaran dari tahun 1994 dan pernah menjajal sebagai Radio Program Director menjadikannya teman terbaik Anda di siang hari dalam #FeMaleHighNoon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Must Read

Hey ARMY, Nikmati Keindahan Natal dan Tahun Baru bersama BT21

0
Jakarta, OOTB – Saat penghujung tahun, biasanya dihabiskan dengan menikmati kebersamaan dengan keluarga dan orang terdekat. Kali ini, buat fans BTS...
no time to die

My Best Bond Girls