Saturday, October 31, 2020
Home Lifestyle Film Horor Yang Sebenarnya Punya Makna Deep

Film Horor Yang Sebenarnya Punya Makna Deep

Oleh: Cisca Becker

-

Jakarta, OOTB.id – Halloween Day di tahun 2020 ini rasanya agak aneh. Hari yang biasanya dilewatkan dengan menikmati segala suguhan pop culture yang bersifat seram dan menakutkan, terasa kehilangan arti dan hampa, karena kenyataannya, dunia yang sesungguhnya jauh lebih menyeramkan: pandemi tak berkesudahan diakibatkan monster berupa virus ganas, ketegangan mencekam di antara masyarakat yang menunggu kepastian pemerintah, dan ketakutan akibat status finansial yang menjadi mimpi buruk kita semua. Film horror paling horror sekalipun tidak bisa menandingi kengerian hidup yang mesti kita jalani.

Satu mood yang juga dialami berjamaah di masa karantina adalah mood reflektif. Menimbang kembali mengenai apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup kita, melihat dalam-dalam isi hati dan pikiran kita untuk menguak apa yang sesungguhnya adalah hal terpenting bagi kita, dan merenungkan cara terbaik untuk mengatasi semua tantangan kehidupan dan mempertahankan kewarasan.

Oleh karena itu, untuk tradisi nonton film horror di hari Halloween kali ini, kriteria film yang saya pilih menjadi sangat spesifik, karena tidak ada tahun yang  lebih unik dari tahun 2020. Menakutkan saja tidak cukup, karena sekedar keluar rumah saja sudah menjadi pengalaman menakutkan. Jump scares saja tidak cukup membuat kita terlonjak, karena tiap hari kita sudah dibuat terperanjat dengan berbagai update berita perkembangan Covid 19. Film-film yang saya rekomendasikan di bawah ini adalah film bergenre horror, namun juga memiliki pesan implisit yang dalem dan membuat kita kepikiran lama setelah kelar nonton, bukan karena bentuk hantunya, tapi karena pesan yang disampaikan ceritanya.

Here goes. Let’s escape the grim daily realities and enjoy this magnificently made horror movies.  Di bawah ini beberapa film horror kesukaan saya yang sebenarnya juga punya makna yang deep banget.

GET OUT

Film besutan Jordan Peele ini bukan hanya seru ditonton tapi sebenarnya punya makna yang sangat dalam dan relevan dengan issue ketegangan rasial dan kebrutalan polisi yang memuncak beberapa tahun belakangan ini di US. Dari keluarga kulit putih yang awalnya terlihat liberal dan toleran, namun akhirnya saat operasi rahasia mereka terkuak, maka terkuak juga sentimen dari semua orang kulit putih, bahwa orang kulit hitam hanyalah objek semata. Adegan terakhir saat para karakter utama menyangka melihat lampu mobil polisi menyala, emosi yang kita rasakan sebagai penonton menggambarkan sepenuhnya emosi yang dialami sehari-hari oleh orang kulit hitam di Amerika Serikat.

THE VVITCH – A NEW ENGLAND FOLKTALE

Film horror yang juga merupakan period drama ini adalah salah satu film horror dengan visual terindah yang pernah saya tonton. Sutradara dan penulis Robert Eggers melakukan riset mendalam pada jurnal-jurnal dan catatan pengadilan di masa Puritan untuk memberikan pada penonton “a Puritan’s nightmare”.

Dengan penceritaan yang mengambil sudut pandang dari para Puritan, atau para komunitas religius pendatang Inggris pertama yang berkoloni di Amerika, dengan nalar yang berdasarkan tahayul dan cerita turun temurun, dimana penyihir dianggap sama nyatanya dengan cuaca, dan agama adalah satu-satunya penjelasan untuk segalanya. Di balik segala terror yang dialami keluarga ini, sebenarnya cerita yang tersirat adalah mengenai trauma yang dialami keluarga disfungsional, dan pergolakan batin remaja wanita yang merasa dirinya terkungkung dan ingin bebas. Yep this one is a sneaky feminist movie. I love it.

BABADOOK

Apa yang bisa mengalahkan rasa takut manusia pada hantu? Mungkin, rasa takut seorang ibu akan keselamatan anaknya. Bayangkan jika seorang ibu harus membesarkan anaknya sendirian, setelah suaminya meninggal. Semua rasa cemas, lelah, rasa tidak mampu, ditanggung sang ibu seorang diri. Babadook bukan hanya sekedar monster seram yang datang menghantui pasangan ibu-anak, tapi sesungguhnya dia merupakan pengejawantahan dari depresi berat sang ibu.

 

HEREDITARY

Disutradari dan ditulis oleh Ari Aster, di permukaan Hereditary bercerita mengenai perkumpulan pemuja setan. Tapi sesungguhnya seluruh film adalah metafor utuk rasa trauma yang dialami segenap keluarga saat kehilangan salah satu anggotanya, baik diakibatkan kematian ataupun karena masalah kejiwaan. Salah satu adegan paling tak terlupakan di bagian akhir film, yang melibatkan karakter Toni Collete dan kawat piano adalah simbol dari kesedihan seorang ibu yang berduka begitu dalam sehingga merasa harus mengalami apa yang terjadi pada anaknya.

MIDSOMMAR

Back to back film Ari Aster hadir di list ini, karena karya follow upnya ini juga memberikan pesan yang tidak langsung terbaca dari jalan cerita utama, mengenai sekumpulan anak muda Amerika yang berkunjung ke sebuah desa terpencil di Swedia untuk mengikuti sebuah ritual musim panas, yang dibalik kecantikan alamnya, cuaca indahnya dan kehangatan hidup komunalnya, ternyata menyimpan rahasia ngeri.

Saat ditanya apa tujuannya membuat film ini, Ari Aster menjawab “I’ve always wanted to make a break-up movie”. Sejatinya, film ini berpesan mengenai bahayanya toxic relationship. Betapa menderitanya saat kita tidak didukung dan dipercaya oleh pasangan kita sendiri yang justru tidak berhenti “gaslighting” dan mengesampingkan perasaan kita. Dan itulah alasan kenapa karakter Dani yang diperankan Florence Pugh merasakan sebuah koneksi mendalam pada orang-orang Harga, karena mereka menangis bersama Dani saat Dani patah hati, dan tidak mengecilkan perasaannya.

TEXAS CHAINSAW MASSACRE

Setelah rentetan film-film horror modern diatas, saya selipkan satu film slasher klasik ini, yang sebenarnya membawa pesan yang teramat woke : vegetarianism. Dari adegan awal yang dimana salah satu karakter berbicara mengenai rumah jagal, yang merupakan foreshadowing pada apa yang akan terjadi para para karakter ini nantinya, kita sudah diberikan ceramah pro-vegan : binatang ternak itu hidupnya mederita.

Selanjutnya saat kengerian memuncak, para korban pun diperlakukan selayaknya manusia memperlakukan hewan ternak : digantung, dikuliti, dimakan. Saking kuatnya pesan pro hak binatang di film ini, bahkan website PETA pun pernah merekomendasikannya untuk mempromosikan gaya hidup vegetarian. Hal ini dikonfirmasi juga oleh sang sutradara Tobe Hooper yang mengatakan bahwa dia tidak makan daging semenjak membuat film ini dan bahkan dia juga meng-klaim bahwa sutradara Guillermo Del Toro pun berubah menjadi seorang vegetarian setelah menonton Texas Chain Massacre.

Cisca Becker
Cisca Becker
Disibukkan sebagai broadcaster, presenter, dan penulis, Cisca justru, Cisca merasa dirinya harus benar-benar pintar mengatur waktu demi menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Must Read

Perayaan Tahun Baru 2020 di Berbagai Belahan Dunia

0
Jakarta, OOTB - Kita segera memasuki dekade baru dengan berbagai harapan baru. Untuk menyambut kehadirannya, inilah beberapa perayaan di kota besar...